JAKARTA - Danantara menetapkan target ambisius untuk penyelesaian proyek strategis energi di Mempawah, Kalimantan Barat.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai hilirisasi bauksit-alumina-aluminium sekaligus memastikan pasokan listrik yang andal untuk operasi smelter. Dengan fokus pada efisiensi dan daya saing, proyek ini dirancang agar selesai tepat waktu dan mendukung pertumbuhan industri aluminium nasional.
Percepatan proyek energi ini menjadi perhatian utama mengingat smelter memerlukan listrik dalam kapasitas besar sebelum beroperasi penuh.
Strategi ini juga menunjukkan sinergi antarpelaku industri nasional, termasuk Danantara, Inalum, Antam, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), untuk menghadirkan solusi energi yang efisien dan terjangkau.
Target penyelesaian proyek hingga 2028 sejalan dengan jadwal operasional New Smelter Aluminium dan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 yang dijadwalkan pada 2029.
Dengan total investasi mencapai Rp104,55 triliun, proyek ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam penguatan industri pengolahan aluminium dalam negeri.
Percepatan Proyek Danantara Mendorong Hilirisasi Strategis
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menekankan bahwa percepatan penyelesaian proyek sangat krusial untuk mendukung hilirisasi aluminium secara terpadu. Pasokan listrik yang stabil menjadi faktor utama agar smelter dapat beroperasi secara optimal tanpa hambatan.
“Targetnya selesai dalam jangka waktu dua tahun, yaitu 2028,” ujar Dony.
Kecepatan pembangunan infrastruktur energi menjadi salah satu kunci keberhasilan proyek strategis ini.
Selain itu, proyek ini juga menandai kolaborasi erat antara Badan Pengelola Investasi Danantara, Inalum, dan Antam, yang bersama-sama memastikan kesiapan energi untuk mendukung operasional smelter skala besar.
Sinergi Energi Antar Grup MIND ID Untuk Efisiensi
Untuk menjamin efisiensi biaya operasional, pasokan listrik proyek akan disediakan oleh PTBA dengan energi berbasis batu bara. Hal ini memungkinkan harga listrik tetap kompetitif sehingga output smelter dapat bersaing di pasar global.
“Proyek ini akan dibangun oleh PTBA. Sumber energinya berasal dari batu bara, sehingga menekan biaya operasional dan meningkatkan daya saing produk,” jelas Dony. Keputusan ini juga menjadi solusi atas kekhawatiran terkait pemenuhan energi listrik yang sempat muncul dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI pada September 2025.
Danantara mengambil peran strategis dengan mengajukan Wilayah Usaha (Wilus) mandiri, sehingga pengelolaan energi tidak bergantung pada Wilus PLN. Langkah ini menekankan pentingnya harga listrik yang terjangkau bagi kelangsungan proyek smelter.
Spesifikasi Kebutuhan Listrik Dan Kesiapan Infrastruktur
Head of Business Development and Strategy Group Inalum, Al Jufri, menjelaskan kebutuhan listrik New Smelter Aluminium mencapai 1,2 Gigawatt (GW) dengan target harga kompetitif US$4–5 sen per kWh. Pasokan listrik harus sudah tersedia pada kuartal IV-2028 agar proyek dapat berjalan sesuai jadwal.
Pemilihan sumber energi lebih menitikberatkan pada harga dan efisiensi, sehingga pihak pengelola memberikan fleksibilitas pada kontraktor energi yang bersaing. “Siapa yang menang tender listrik, itu yang akan kami ambil,” ujar Al Jufri, menegaskan strategi pragmatis dalam pemenuhan energi.
Secara teknis, lahan seluas 100 hektare di wilayah pesisir Kijing telah disiapkan untuk efisiensi logistik, memudahkan kapal pengangkut batu bara bersandar dan meminimalkan jarak transmisi ke smelter hanya sekitar lima kilometer.
Dukungan PTBA Memperkuat Ketahanan Energi Nasional
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menekankan komitmen perusahaan dalam mendukung proyek strategis nasional. Pasokan energi yang andal dan efisien akan memperkuat daya saing industri aluminium Indonesia serta mengoptimalkan rantai pasok bauksit-alumina-aluminium.
“PTBA berkomitmen menyediakan energi yang andal, efisien, dan berdaya saing. Dukungan ini memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung hilirisasi terpadu di Mempawah,” ujarnya. Sinergi ini menjadi bukti kesiapan perusahaan dalam menghadapi tantangan pasokan energi untuk industri strategis.
Kolaborasi Danantara, Inalum, Antam, dan PTBA menunjukkan langkah konkrit pemerintah dan BUMN dalam memperkuat industri pengolahan aluminium, mengedepankan efisiensi, dan memastikan pasokan listrik untuk smelter tetap stabil.
Dengan pendekatan ini, proyek diharapkan rampung tepat waktu dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.