Nusakambangan

Nusakambangan Berubah Dari Pulau Menakutkan Menjadi Harapan Baru

Nusakambangan Berubah Dari Pulau Menakutkan Menjadi Harapan Baru
Nusakambangan Berubah Dari Pulau Menakutkan Menjadi Harapan Baru

JAKARTA - Pulau Nusakambangan selama ini kerap hadir dalam bayangan publik sebagai tempat paling menakutkan bagi narapidana. Cerita tentang eksekusi mati, penjara berlapis pengamanan, dan stigma pulau hukuman membentuk citra yang keras dan mencekam. 

Gambaran itulah yang pertama kali terlintas di benak Hendro, warga binaan asal Banjarnegara, Jawa Tengah, saat mendengar dirinya akan dipindahkan ke Nusakambangan. Rasa takut itu bukan hanya miliknya, tetapi juga dirasakan keluarga yang membayangkan kemungkinan terburuk.

Ketakutan Hendro semakin menjadi ketika kabar kepindahan itu sampai ke rumah. Istrinya menjerit, keluarga menangis, dan cerita-cerita yang beredar tentang Nusakambangan seolah menguatkan kecemasan. Baginya, pulau tersebut identik dengan akhir yang kelam. 

“Ya karena kan tempat eksekusi juga di sini, tempat eksekusi dan image-nya orang-orang luar itu, Nusakambangan serem,” kata Hendro.

Namun, realitas yang ia temui setelah tiba di Nusakambangan justru berbanding terbalik dengan bayangan sebelumnya. Ketakutan perlahan luruh, digantikan rasa lega dan pandangan baru tentang makna pembinaan di balik tembok penjara.

Dari Pulau Menakutkan Menjadi Ruang Pembelajaran

Setibanya di Nusakambangan, Hendro menyadari bahwa cerita horor yang selama ini ia dengar tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan. 

Alih-alih hanya berhadapan dengan pengamanan ketat, ia justru diperkenalkan pada berbagai kegiatan produktif yang dirancang untuk membekali warga binaan dengan keterampilan hidup. Pandangannya tentang Nusakambangan berubah drastis, dari pulau penjara menjadi ruang pembelajaran.

Hendro menjadi salah satu dari empat warga binaan yang dipercaya mengelola peternakan bebek petelur di Lapas Terbuka Nusakambangan. Lahan seluas satu hektare yang mereka kelola menjadi tempat belajar sekaligus bekerja. 

Sebanyak 3.368 ekor bebek dirawat setiap hari, menghasilkan sekitar 180 hingga 200 butir telur per hari. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas, melainkan proses pembinaan yang mengajarkan tanggung jawab dan keterampilan nyata.

Pekerjaan tersebut juga dilakukan secara profesional. Hendro menegaskan bahwa mereka tidak dipaksa bekerja tanpa imbalan. Setiap warga binaan yang terlibat memperoleh premi sebesar Rp 150.000 per orang setiap bulan. Penghargaan atas kerja ini menjadi bagian penting dari upaya menumbuhkan rasa percaya diri dan martabat sebagai manusia yang sedang menjalani proses pemasyarakatan.

Kenyamanan Yang Tidak Menghapus Rindu Keluarga

Beragam kegiatan yang dijalani membuat Hendro merasa betah berada di Nusakambangan. Rutinitas yang teratur, pekerjaan yang jelas, serta suasana pembinaan yang manusiawi menumbuhkan rasa nyaman. 

Namun, Hendro menegaskan bahwa kenyamanan tersebut tidak berarti ia ingin menetap selamanya di pulau itu. Bagaimanapun juga, kebebasan dan kebersamaan dengan keluarga tetap menjadi tujuan utama.

“Saya sudah merasa nyaman di sini, cuman senyaman-nyamannya di sini lebih nyaman kalau kita kumpul dengan keluarga,” ujar Hendro. 

Ia menyebut masa bebasnya yang kian dekat, yakni pada Juni 2026, sebagai pengingat bahwa fase di Nusakambangan hanyalah bagian dari perjalanan hidupnya.

Rasa nyaman yang ia rasakan justru memantapkan niat untuk menjalani hidup lebih baik setelah bebas. Pengalaman di Nusakambangan bukan untuk dilupakan, melainkan dijadikan bekal agar ia dapat kembali ke masyarakat dengan kesiapan yang lebih matang.

Ilmu Ternak Sebagai Bekal Kehidupan Baru

Sebelum menjadi warga binaan, Hendro bekerja sebagai tukang kayu. Dunia peternakan bebek sama sekali bukan bidang yang pernah ia geluti. Namun, pengalaman selama menjalani pembinaan di Lapas Terbuka Nusakambangan membuka cakrawala baru. Ia bertekad untuk menerapkan ilmu yang diperoleh sebagai modal usaha setelah kembali ke rumah.

“ Saya sebelumnya belum pernah ternak ini, pengalaman dari sini nanti di rumah akan kita coba untuk ternak bebek,” katanya. 

Harapan itu menjadi bukti bahwa pembinaan yang tepat mampu mengubah rasa takut menjadi keyakinan akan masa depan.

Selain peternakan bebek, Lapas Terbuka Nusakambangan memiliki berbagai program pembinaan lain, khususnya di bidang ketahanan pangan. 

Pertanian padi dikelola di lahan seluas 7,1 hektare oleh lima warga binaan, masing-masing menerima premi Rp 600.000 per bulan. Pertanian jagung juga dikembangkan di lahan 3,7 hektare dengan melibatkan empat warga binaan dan premi yang sama.

Program hortikultura turut menjadi bagian dari pembinaan, mulai dari terong, ubi jalar, kangkung, okra, hingga singkong yang dikelola oleh warga binaan dalam jumlah berbeda. 

Selain itu, terdapat peternakan ayam petelur yang menghasilkan sekitar 3.500 butir telur per hari dengan melibatkan lima warga binaan, serta peternakan sapi sebanyak 57 ekor yang dikelola oleh empat warga binaan.

Seluruh kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Nusakambangan tidak semata menjadi simbol hukuman, melainkan ruang pembinaan yang memberi harapan. Bagi Hendro, pulau yang dulu menakutkan kini menjadi tempat belajar tentang kerja, tanggung jawab, dan masa depan yang lebih baik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index