JAKARTA - Olahraga berkuda di Indonesia kini tengah mengalami transformasi signifikan.
Federasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (FN Pordasi) gencar membangun ekosistem yang inklusif. Strategi ini dilakukan melalui sosialisasi, kompetisi, dan penguatan empat federasi nasional yang menaungi berbagai cabang olahraga berkuda.
Tujuan utama Pordasi adalah menyatukan pendekatan prestasi, tradisi, dan warisan budaya. Semua upaya dilakukan agar olahraga berkuda tidak hanya menjadi kompetisi semata, tetapi juga media pengembangan ekonomi, pariwisata, dan pembinaan atlet. Hal ini sejalan dengan visi membentuk ekosistem berkesinambungan yang mendukung seluruh pihak terkait.
Perubahan organisasi Pordasi mulai terlihat sejak Munas XIV pada November 2024. Transformasi ini menjadi titik awal penguatan koordinasi antar federasi. Fokusnya adalah menciptakan kolaborasi yang efektif antara FN Pordasi Pacu, FN Pordasi Equestrian, FN Pordasi Polo, dan FN Pordasi Berkuda Memanah.
Pengembangan Berkuda Memanah
Berkuda memanah menjadi cabang olahraga yang unik dan sarat nilai historis. “Berkuda memanah ini merupakan salah satu cabang olahraga yang cukup unik, karena menyatukan nilai historis dan pembinaan prestasi dalam satu kesatuan,” ujar Sekjen FN Pordasi Berkuda Memanah Luthfi Syaifullah Zubir. Saat ini, cabang olahraga ini telah memiliki 17 provinsi sebagai anggota dan diproyeksikan terus bertambah.
Selain itu, standar kuda ideal terus digencarkan melalui kompetisi. Pordasi mendorong penggunaan kuda lokal agar ekosistem domestik semakin kuat. Program ini sekaligus memberikan ruang bagi pengembangan kualitas kuda nasional secara berkelanjutan.
Pordasi juga telah menyiapkan kalender turnamen tahun 2026. Beberapa di antaranya adalah Liga Santri Indonesia Seri 1 di Jawa Tengah, Kejurnas III di DKI Jakarta dan Jawa Barat, Liga Santri Seri 2 di Bali, Asian Horseback Archery Championship, dan Liga Santri Seri 3 di Banten. Turnamen ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dan prestasi atlet.
Pacu Kuda sebagai Penggerak Ekonomi dan Pariwisata
Cabang pacu kuda menjadi fokus pengembangan industri ekonomi kerakyatan. FN Pordasi Pacu menekankan bahwa olahraga ini tidak hanya soal kompetisi, tetapi juga menghidupkan UMKM, peternakan, dan pariwisata. Antusiasme masyarakat terlihat dari 120.000 penonton Pacu Kuda pada PON XXI di Takengon, Aceh Tengah.
Pacu kuda juga menjadi media edukasi bagi masyarakat untuk mengenal kualitas kuda dan teknik berkuda. Kompetisi yang digelar secara berkala memperkuat partisipasi lokal sekaligus meningkatkan ekonomi wilayah penyelenggara. Dengan demikian, olahraga ini memadukan prestasi atlet dan dampak sosial-ekonomi secara seimbang.
Fokus lain adalah membangun ekosistem yang inklusif bagi semua pihak terkait. Peternak, pelatih, atlet, dan pengelola turnamen mendapat perhatian agar sistem pendukung kuda pacu tetap berkelanjutan. Hal ini menjadikan pacu kuda sebagai model olahraga yang memberi manfaat ganda: prestasi dan pengembangan ekonomi.
Pembinaan Equestrian dan Polo Profesional
Di FN Pordasi Equestrian, pembinaan atlet menjadi prioritas utama. Ketua Umum Dewi Larasati menekankan, “Di dalam olahraga ini, manusia dan kuda, dua-duanya adalah atlet. Jadi keduanya harus dipersiapkan secara maksimal melalui latihan yang intensif dan berkelanjutan.” Sistem pembinaan ini juga menekankan profesionalisme organisasi untuk meningkatkan daya saing di tingkat nasional dan internasional.
Sementara itu, FN Pordasi Polo berfokus pada pembangunan ekosistem menyeluruh. Tidak hanya prestasi, tetapi penguatan kualitas kuda lokal, pengembangan industri pendukung, dan integrasi pariwisata menjadi bagian penting. Strategi ini memastikan cabang polo Indonesia berorientasi pada keberlanjutan dan inklusivitas, bukan sekadar kemenangan di lapangan.
Kolaborasi antara Equestrian dan Polo diharapkan menciptakan standar latihan dan kompetisi yang seragam. Keduanya juga menjadi model pengembangan olahraga berbasis komunitas yang profesional. Pendekatan ini diharapkan mendorong lebih banyak generasi muda untuk berpartisipasi dan menekuni olahraga berkuda secara serius.
Transformasi Organisasi Pordasi
Sejak Munas XIV, Pordasi melakukan transformasi besar dalam struktur organisasinya. Fokus utama adalah menyelaraskan fungsi empat federasi nasional. Transformasi ini menekankan pembangunan ekosistem yang berkesinambungan agar setiap nomor olahraga berkuda mendapatkan dukungan maksimal.
Ekosistem inklusif menjadi kunci agar semua pihak mendapat manfaat. Atlet, pengelola, pelatih, dan masyarakat luas dapat merasakan dampak positif dari setiap program. Hal ini mencakup pengembangan kualitas atlet, kuda lokal, serta potensi industri pendukung yang terkait olahraga berkuda.
Pordasi juga menekankan pentingnya sinergi antar cabang olahraga. Misalnya, pengalaman sukses di Pacu Kuda dapat diadaptasi untuk pengembangan Equestrian dan Polo. Pendekatan ini memastikan pertumbuhan olahraga berkuda secara merata dan berkesinambungan.
Membangun Masa Depan Berkuda Nasional
Visi Pordasi ke depan adalah menciptakan ekosistem berkuda yang inklusif, berkesinambungan, dan berdaya saing. Semua cabang olahraga berkuda mendapat perhatian mulai dari atlet, kuda, pelatih, hingga industri pendukung. Dengan kolaborasi yang baik, olahraga berkuda di Indonesia dapat terus berkembang.
Sosialisasi, kompetisi, dan program pembinaan menjadi fondasi utama pembangunan ekosistem. Pordasi menekankan bahwa olahraga ini tidak hanya soal prestasi, tetapi juga kontribusi sosial, ekonomi, dan budaya. Pendekatan holistik ini diharapkan menghasilkan generasi atlet berkuda yang profesional dan peduli terhadap tradisi.
Dengan strategi tersebut, FN Pordasi optimistis olahraga berkuda Indonesia akan semakin maju. Peningkatan kualitas atlet, kuda, dan infrastruktur mendukung target nasional maupun internasional. Semua program ini bertujuan agar ekosistem berkuda Indonesia menjadi inklusif, kompetitif, dan berkelanjutan.