Danantara Resmikan Enam Proyek Strategis untuk Dorong Hilirisasi Nasional 2026

Senin, 09 Februari 2026 | 12:22:07 WIB
Danantara Resmikan Enam Proyek Strategis untuk Dorong Hilirisasi Nasional 2026

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membuka babak baru dalam penguatan ekonomi Indonesia melalui peresmian enam proyek strategis. 

Total investasi yang digelontorkan mencapai US$7 miliar atau setara Rp110 triliun, mencerminkan komitmen terhadap pengembangan industri berbasis nilai tambah. Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menekankan bahwa proyek ini akan memberi dampak ekonomi berantai di 13 wilayah operasional.

Investasi ini tidak hanya berkutat pada perputaran modal, tetapi juga membangun fondasi ekonomi jangka panjang. Dengan proyek yang tersebar luas, multiplier effect diharapkan memicu aktivitas industri dan lapangan kerja. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memaksimalkan potensi sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Keberadaan enam proyek awal ini menegaskan posisi Indonesia dalam peta investasi global. Setiap proyek dirancang untuk menggabungkan teknologi modern dan kolaborasi strategis antara BUMN dan swasta. Selain itu, investasi ini diharapkan mendorong pertumbuhan sektor energi, mineral, dan pangan.

Fokus pada Energi, Mineral, dan Pangan

Proyek yang diresmikan mencakup sektor vital untuk ketahanan ekonomi nasional, termasuk energi, mineral, dan pangan. Rosan menyebut, pada 2025 sektor ini menyumbang sekitar 30% dari total investasi masuk dengan nilai Rp584,1 triliun. Penyebaran proyek tidak lagi terpusat di satu wilayah, melainkan tersebar dari Sumatera hingga Maluku.

Distribusi investasi merata diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lokasi proyek yang beragam juga mempermudah integrasi rantai pasok nasional. Hal ini menunjukkan bahwa hilirisasi tidak sekadar transformasi industri, tetapi juga alat pemerataan pembangunan.

Kegiatan hilirisasi ini selaras dengan strategi nasional memperkuat ketahanan energi dan pangan. Pemerintah dan Danantara berkolaborasi untuk memastikan sumber daya alam diolah hingga produk bernilai tinggi. Dengan demikian, sektor ini tidak hanya berperan ekonomi tetapi juga lingkungan dan sosial.

Rincian Enam Proyek Strategis

Enam proyek pertama ini melibatkan kolaborasi BUMN dan swasta global, masing-masing memiliki fokus berbeda namun saling mendukung. 

Smelter Aluminium baru di Mempawah, Kalimantan Barat, dikelola MIND ID dengan kapasitas 600.000 metrik ton per tahun, meningkatkan nilai tambah mineral hingga 70 kali lipat. Proyek ini diproyeksikan menyumbang devisa hingga Rp52 triliun per tahun melalui rantai pasok manufaktur domestik.

Pabrik Bioethanol Glenmore Fase 1 di Banyuwangi, Jawa Timur, hasil sinergi PTPN III dan Pertamina, memproduksi 100 KLPD untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Biorefinery Cilacap Fase 1 milik Pertamina mengolah minyak jelantah menjadi Sustainable Aviation Fuel atau avtur hijau dengan kapasitas 6.000 barel per hari, sekaligus menargetkan kontribusi PDB Rp199 triliun.

Proyek Bioethanol berbasis tebu di Banyuwangi memberdayakan lebih dari 4.000 petani lokal, sedangkan Pabrik Garam Olahan Segoromadu 2 di Gresik dan Sampang berkapasitas 380.000 ton per tahun dengan teknologi MVR. 

Terakhir, Hilirisasi Poultry Terintegrasi di Malang dan lima provinsi lain membangun ekosistem peternakan ayam modern di lahan seluas 5,6 hektar untuk menjamin stabilitas pasokan protein hewani.

Visi Presiden dan Dampak Sosial

Langkah Danantara sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan 18 proyek strategis nasional senilai Rp618 triliun. Proyek ini diperkirakan membuka 276.000 lapangan kerja berkualitas di seluruh Indonesia.

Presiden juga menekankan hilirisasi harus selaras dengan proyek ramah lingkungan seperti Waste to Energy atau PLTSa di 34 kabupaten/kota dengan nilai US$3,5 miliar.

“Kami memiliki kemampuan untuk itu. Hilirisasi adalah pokok yang harus segera dilaksanakan agar ekonomi kita tidak hanya tumbuh, tapi juga mandiri secara energi dan pangan,” tegas Presiden Prabowo. 

Keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha lokal juga menjadi fokus untuk memastikan distribusi manfaat yang merata. Dengan pendekatan ini, proyek tidak hanya meningkatkan kapasitas industri tetapi juga kesejahteraan sosial.

Peran UKM dan masyarakat lokal terlihat nyata melalui penyediaan jasa logistik, bahan baku, dan tenaga kerja. Dampak sosial diharapkan berkelanjutan seiring berkembangnya ekosistem industri di sekitar proyek. Enam proyek awal ini menjadi contoh nyata sinergi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang terpadu.

Kesimpulan: Transformasi Ekonomi Berkelanjutan

Peresmian enam proyek strategis Danantara menandai era baru hilirisasi nasional. Total investasi Rp110 triliun tidak hanya menambah kapasitas industri tetapi juga memperkuat daya saing global Indonesia. Dampak sosial dan ekonomi akan langsung terasa melalui penyerapan tenaga kerja, pemberdayaan petani, dan penguatan rantai pasok domestik.

Proyek ini juga menjadi simbol keberlanjutan yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, energi bersih, dan ketahanan pangan. 

Distribusi proyek yang merata memperlihatkan upaya pemerintah memaksimalkan manfaat ekonomi hingga ke daerah terpencil. Dengan langkah strategis ini, Indonesia semakin dekat dengan visi menjadi negara industri yang mandiri dan berdaya saing global.

Enam proyek Danantara tidak hanya berfokus pada perputaran modal, tetapi juga membangun ekosistem hilirisasi yang berkelanjutan. 

Transformasi ini diharapkan menjadi fondasi bagi proyek-proyek hilirisasi berikutnya, sekaligus mendorong inovasi industri nasional. Indonesia kini berada di jalur pertumbuhan yang lebih kokoh dan berdaya saing tinggi di kancah global.

Terkini

Metode Diet 30-30-30 untuk Menurunkan Berat Badan Efektif

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:51:52 WIB

11 Camilan Manis Sehat Redam Keinginan Gula Menurut Ahli

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:51:51 WIB

Pancake Teflon Praktis Cuma 3 Bahan Tanpa Susu

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:51:50 WIB