Imlek Ramadan Berdekatan Dorong Kinerja Emiten Ritel Konsumsi

Selasa, 10 Februari 2026 | 08:48:38 WIB
Imlek Ramadan Berdekatan Dorong Kinerja Emiten Ritel Konsumsi

JAKARTA - Dinamika konsumsi masyarakat Indonesia pada awal 2026 diproyeksikan bergerak lebih agresif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari posisi dua perayaan besar, Imlek dan Ramadan, yang jatuh dalam rentang waktu berdekatan. 

Kondisi tersebut dinilai menciptakan rangkaian lonjakan permintaan yang saling menyambung, sehingga berpotensi memberikan dorongan berlapis bagi kinerja emiten ritel sejak awal tahun.

Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai kedekatan dua momentum tersebut dapat memunculkan efek bola salju bagi sektor berbasis konsumsi domestik. Lonjakan permintaan yang biasanya terpisah kini terjadi hampir bersamaan, menciptakan siklus belanja yang lebih panjang dan intens.

Menurut Wafi, sektor yang berpeluang paling besar menikmati dampak positif ini antara lain ritel fesyen dan gadget, barang konsumsi makanan dan minuman, hingga industri unggas. Seluruh sektor tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan dan tradisi masyarakat dalam menyambut hari raya.

Imlek Dan Ramadan Picu Lonjakan Permintaan Beruntun

Dalam kajiannya, Muhammad Wafi menjelaskan bahwa secara historis terdapat tiga momentum utama yang menjadi pendorong penjualan sektor konsumsi, yakni Imlek, Lebaran, serta Natal dan Tahun Baru. Namun, pada awal 2026, kombinasi Imlek dan Lebaran yang jatuh berdekatan dinilai menghadirkan dampak yang lebih signifikan.

Dua perayaan besar tersebut diperkirakan mendorong lonjakan permintaan secara beruntun, sehingga berdampak langsung pada kinerja penjualan emiten ritel sejak kuartal pertama. Kondisi ini menjadi pengecualian, mengingat kuartal I secara historis cenderung lebih sepi dibandingkan periode lainnya.

“Dampaknya cukup besar karena dua momen belanja utama terjadi hampir bersamaan. Ini bisa membuat kuartal I yang biasanya relatif lemah justru menjadi lebih solid,” ujar Wafi.

Lonjakan tersebut tidak hanya berasal dari konsumsi musiman, tetapi juga dari kebutuhan gaya hidup, peremajaan produk, hingga belanja hadiah yang lazim terjadi menjelang Imlek dan berlanjut pada persiapan Ramadan.

Daya Beli Tetap Terjaga Di Tengah Tekanan Inflasi

Meskipun tekanan inflasi masih menjadi perhatian, sentimen konsumsi masyarakat dinilai tetap cukup kuat. Salah satu faktor penopang utama adalah pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) yang memberikan bantalan signifikan bagi daya beli rumah tangga.

Selain itu, pola konsumsi selama periode hari raya cenderung bersifat inelastis. Artinya, belanja kebutuhan pokok maupun produk terkait perayaan tetap dilakukan meskipun terdapat tekanan ekonomi. Dari sisi volume, permintaan relatif terjaga karena konsumsi tersebut dianggap sebagai kebutuhan wajib.

Kondisi ini memberikan ruang bagi emiten ritel untuk mencatatkan kinerja penjualan yang lebih stabil, bahkan di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan adanya dua momentum besar yang saling berdekatan, perputaran uang di sektor konsumsi diperkirakan berlangsung lebih panjang tanpa jeda signifikan.

Strategi Akumulasi Saham Menjelang Puncak Perayaan

Dengan prospek konsumsi yang positif, investor disarankan untuk menerapkan strategi akumulasi saham sektor konsumsi sebelum puncak perayaan tiba. Wafi menyebut beberapa saham ritel yang dinilai menarik untuk dicermati berdasarkan level harga saat ini.

Saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) dinilai menarik pada level 2.100, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) pada level 600, serta PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) pada level 580. Saham-saham tersebut diperkirakan dapat memanfaatkan lonjakan permintaan yang terjadi secara beruntun selama periode Imlek hingga Lebaran.

Dari sudut pandang teknikal, sebagian besar saham konsumsi masih berada dalam fase akumulasi. Hanya beberapa emiten tertentu yang mulai menunjukkan potensi pembalikan tren, sementara mayoritas lainnya masih bergerak terbatas dan menunggu katalis tambahan.

Konsumsi Dinilai Resilien Dan Menarik Untuk Investor Selektif

Pandangan senada disampaikan oleh Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Ia menilai dengan dua momen besar yang berdekatan, dinamika konsumsi masyarakat menjadi lebih optimal karena siklus belanja berlangsung tanpa jeda panjang.

“Kinerja penjualan biasanya meningkat di periode Ramadan dan Lebaran. Apalagi ketika digabung dengan Imlek, potensi kenaikannya bisa lebih besar karena konsumsi masyarakat menjadi lebih aktif,” ujarnya.

Di tengah kondisi daya beli masyarakat yang fluktuatif, sektor konsumsi dinilai masih cukup resilien. Belanja kebutuhan pokok serta produk terkait hari raya tetap berjalan dan menjadi penopang utama kinerja emiten.

Namun demikian, investor tetap diimbau bersikap selektif. Fokus diarahkan pada saham-saham dengan valuasi yang sudah menarik, fundamental yang solid, serta mulai menunjukkan sinyal perbaikan tren.

Dalam konteks tersebut, Nafan merekomendasikan saham PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) dengan target harga di level 1.995 dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) dengan target harga pada level 2.020. Rekomendasi ini mempertimbangkan posisi valuasi serta prospek konsumsi yang masih relatif kuat sepanjang awal tahun.

Dengan kombinasi Imlek dan Ramadan yang berdekatan, awal 2026 dinilai berpotensi menjadi periode krusial bagi sektor ritel dan konsumsi domestik.

Terkini

OJK Proyeksikan Aset Asuransi Tumbuh Hingga 7% 2026

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:09:04 WIB

Asuransi Tri Pakarta Syariah OJK Beri Izin Usaha Resmi

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:09:03 WIB

BCA Terus Ekspansi Cabang Fokus Pertumbuhan Indonesia Timur

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:09:02 WIB

Aset Dana Pensiun 2026 Diproyeksi Tumbuh Hingga 12 Persen

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:09:01 WIB