Aplikasi Pengganti TikTok Ramai Dilirik Pengguna Amerika Serikat Kini

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:08:53 WIB
Aplikasi Pengganti TikTok Ramai Dilirik Pengguna Amerika Serikat Kini

JAKARTA - Gelombang perpindahan pengguna media sosial kembali terjadi, kali ini dipicu oleh dinamika yang menimpa TikTok di Amerika Serikat. 

Bukan karena tren baru atau tantangan viral, melainkan akibat perubahan struktural di balik layar yang memunculkan tanda tanya besar soal masa depan platform tersebut. Di tengah ketidakpastian itu, sejumlah aplikasi pengganti TikTok mendadak kebanjiran perhatian dan unduhan.

Situasi ini berawal dari tekanan politik yang kembali diarahkan kepada TikTok. Pemerintah Amerika Serikat menuntut ByteDance, perusahaan induk TikTok yang berbasis di China, untuk melepas kepemilikan operasional TikTok di AS. Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, TikTok terancam menghadapi pemblokiran permanen secara nasional.

Setelah melalui negosiasi panjang yang melibatkan kepentingan AS dan China di tengah konflik geopolitik dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, operasional TikTok di AS akhirnya diserahkan kepada entitas Amerika Serikat. Namun, alih-alih meredakan kekhawatiran, keputusan ini justru memicu masalah baru yang berdampak langsung pada perilaku pengguna.

Tekanan Politik Mengubah Arah Kepercayaan Pengguna

Banyak pengguna TikTok di AS mulai menghapus aplikasi tersebut setelah pengumuman pembentukan perusahaan gabungan baru yang akan menangani operasional TikTok di negara itu. Perubahan kepemilikan ini menimbulkan keraguan, terutama terkait transparansi dan kendali atas data pengguna.

Sejak akhir Januari, rata-rata jumlah pengguna yang menghapus aplikasi TikTok melonjak hingga 150% dibandingkan tiga bulan sebelumnya. 

Data tersebut berasal dari firma riset pasar Sensor Tower. Angka ini mencerminkan meningkatnya keresahan publik, meskipun TikTok masih mempertahankan basis pengguna aktif yang relatif stabil.

Beberapa waktu lalu, TikTok menyatakan akan membentuk perusahaan gabungan baru guna mengamankan kelangsungan operasionalnya di AS, dengan kepemimpinan berada di tangan entitas Amerika. 

Perusahaan menunjuk Adam Presser, mantan kepala operasional TikTok, sebagai CEO perusahaan baru tersebut. Namun, pengumuman ini belum sepenuhnya meyakinkan para kreator dan pengguna.

Kebijakan Privasi Picu Kontroversi Baru

Kekhawatiran pengguna semakin memuncak setelah TikTok meminta mereka menyetujui pembaruan kebijakan privasi pada pekan lalu. Dokumen kebijakan tersebut ramai dibagikan di media sosial karena memuat daftar data yang berpotensi dikumpulkan oleh platform.

Dalam kebijakan baru itu, TikTok menyebut kemungkinan penghimpunan data pribadi sensitif, seperti ras dan etnik asal, orientasi seksual, kewarganegaraan atau status imigrasi, hingga informasi keuangan. Meski menuai kontroversi, bahasa dalam kebijakan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Versi kebijakan yang diarsipkan sejak Agustus 2024 telah memuat poin-poin serupa.

Namun, karena pembaruan kebijakan ini muncul bersamaan dengan pengumuman operasional TikTok di bawah perusahaan gabungan baru, sentimen negatif pun terlanjur berkembang di mata publik. Banyak pengguna menilai momentum tersebut sebagai sinyal yang mengkhawatirkan.

"Jika saya bisa menghapus platform terbesar saya karena terms and condition (T&C) dan penyensoran yang sudah tak terkontrol, Anda juga bisa melakukannya," kata kreator konten Dre Ronayne dalam unggahan di Threads.

Ronayne mengungkapkan bahwa sebelum menghapus TikTok pada akhir pekan lalu, ia memiliki hampir 400.000 pengikut. Keputusannya menjadi simbol protes sekaligus dorongan bagi pengguna lain untuk mempertimbangkan langkah serupa.

Gangguan Teknis Memperparah Ketidakpastian

Selain isu kebijakan, sejumlah kreator konten juga melaporkan gangguan teknis di TikTok. Beberapa video disebut tidak bisa diunggah ke aplikasi, menambah frustrasi di kalangan pengguna.

Nadya Okamoto, salah satu kreator TikTok populer dengan lebih dari 4 juta pengikut, menyatakan bahwa TikTok AS belum memberikan penjelasan rinci mengenai dampak pembentukan perusahaan gabungan baru terhadap operasional harian platform.

"Hal ini yang menyebabkan banyak orang paranoid, karena kami tak tahu apa yang sedang terjadi," ujarnya.

Okamoto juga mengatakan bahwa ia mengalami kendala selama beberapa hari, termasuk tidak bisa mengunggah video baru selama 24 jam. Dalam situasi tersebut, ia memilih untuk mendistribusikan kontennya melalui Instagram milik Meta dan YouTube milik Google.

Sementara itu, sebuah akun di X yang terafiliasi dengan perusahaan gabungan baru TikTok menyebut gangguan layanan disebabkan oleh pemadaman listrik di salah satu pusat data di AS.

"Kami berkoordinasi dengan mitra data center kami untuk menstabilkan layanan kami. Kami meminta maaf atas gangguan ini dan semoga bisa cepat pulih," tulis akun tersebut.

Aplikasi Alternatif TikTok Kian Dilirik

Meski jumlah uninstall TikTok meningkat signifikan, laporan Sensor Tower menunjukkan bahwa tingkat pengguna aktif TikTok di AS masih relatif stagnan dibandingkan pekan sebelumnya. Artinya, belum terjadi penurunan masif dalam penggunaan harian.

Namun, tren berbeda terlihat pada aplikasi pesaing. Ketertarikan masyarakat terhadap platform alternatif TikTok meningkat tajam dalam waktu singkat. Sensor Tower mencatat bahwa unduhan aplikasi UpScrolled melonjak lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya. Aplikasi Skylight Social juga mengalami kenaikan signifikan dengan pertumbuhan 919%.

Tak hanya itu, aplikasi Rednote asal China turut mencatat peningkatan unduhan sebesar 53% dari pekan ke pekan. Lonjakan ini menandakan adanya migrasi bertahap, terutama dari pengguna yang ingin mengantisipasi perubahan lebih besar di TikTok.

Hingga kini, TikTok belum memberikan respons atas permintaan komentar terkait lonjakan uninstall dan meningkatnya popularitas aplikasi pesaing. Di tengah dinamika ini, lanskap media sosial AS tampak kembali memasuki fase transisi, di mana kepercayaan pengguna menjadi faktor penentu utama.

Terkini