Kemenkes Tingkatkan Sinergi ASEAN Hadapi Lonjakan Kasus Demam Berdarah Dengue

Selasa, 10 Februari 2026 | 14:07:51 WIB
Kemenkes Tingkatkan Sinergi ASEAN Hadapi Lonjakan Kasus Demam Berdarah Dengue

JAKARTA - Kemenkes Perkuat Kerja Sama ASEAN Hadapi Lonjakan Dengue menjadi perhatian serius bagi kesehatan regional. 

Kasus dengue di Asia Tenggara masih tinggi dan menimbulkan risiko kematian bagi masyarakat. Para pakar menekankan bahwa pengendalian penyakit ini tidak dapat dilakukan secara individu atau nasional semata.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, menegaskan perlunya kolaborasi lintas negara. “Infeksi dengue di kawasan ASEAN masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Karena itu, kolaborasi antarnegara ASEAN menjadi penting untuk memperkuat upaya penanggulangan dengue,” ujarnya. Langkah ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan pertukaran pengalaman dan strategi pengendalian vektor.

Kasus dengue yang meningkat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perubahan iklim dan urbanisasi. Penyakit ini menimbulkan beban bagi sistem kesehatan di banyak negara. Dengan pendekatan regional, risiko lonjakan kasus di satu negara bisa ditekan melalui koordinasi bersama.

Forum Regional ASEAN Sebagai Wadah Kolaborasi

Kemenkes mendorong forum regional ASEAN sebagai platform berbagi praktik terbaik. Forum ini memungkinkan negara-negara anggota mempresentasikan strategi efektif dalam pengendalian dengue. Indonesia sebagai tuan rumah mendorong rekomendasi konkret yang dapat diterapkan secara lintas batas negara.

Prima menjelaskan bahwa pengendalian dengue harus dilakukan secara terintegrasi. “Pengendalian dengue tidak bisa berdiri sendiri. Kita perlu langkah bersama, terintegrasi, dan berkelanjutan agar hasilnya optimal,” katanya. Kolaborasi ini mencakup pengawasan vektor, pengendalian lingkungan, dan perlindungan kesehatan masyarakat.

Forum regional juga menjadi sarana bagi negara anggota ASEAN untuk menyelaraskan target bersama. Target ini mencakup pengurangan kasus dan angka kematian akibat dengue. Dengan demikian, semua negara memiliki pedoman kolektif yang jelas dalam menanggulangi penyakit menular ini.

Pendekatan Terpadu dalam Penanggulangan Dengue

Kemenkes menekankan pentingnya pendekatan multi-sektor dalam pengendalian dengue. Hal ini meliputi pengendalian nyamuk, pemantauan lingkungan, serta edukasi masyarakat mengenai pencegahan. Prima menekankan perlunya keterlibatan semua pihak agar strategi dapat berjalan efektif.

Program vaksinasi dan pengawasan epidemiologi menjadi bagian dari strategi nasional yang didorong secara regional. Integrasi data antarnegara ASEAN membantu dalam deteksi dini wabah dengue. Pendekatan ini juga memungkinkan respons cepat terhadap lonjakan kasus di wilayah tertentu.

Selain itu, kampanye kesehatan masyarakat mengenai pencegahan dengue menjadi fokus utama. Edukasi meliputi pentingnya membersihkan lingkungan, menghilangkan genangan air, dan mengenali gejala awal dengue. Kesadaran komunitas menjadi faktor kunci dalam menurunkan risiko infeksi.

Solidaritas ASEAN untuk Target Nol Kematian Dengue

Kemenkes mendorong negara-negara ASEAN menetapkan target bersama untuk menekan angka kematian. “Sehingga target zero death akibat dengue pada 2030 dapat dicapai bersama. Kami berharap solidaritas regional ASEAN semakin kuat guna menghasilkan langkah kolektif terarah menghadapi ancaman dengue lintas negara,” ujar Prima. Target ini memerlukan koordinasi kebijakan dan protokol medis standar di seluruh kawasan.

Asnawi Abdullah menambahkan bahwa penyakit dengue tidak mengenal batas negara. Faktor lingkungan dan iklim serupa menyebabkan risiko infeksi menyebar lintas wilayah. “Faktor ini membutuhkan respons nasional sekaligus kepemimpinan kolektif, penyelarasan kebijakan, serta kerja sama regional berkelanjutan,” katanya.

Tahun-tahun sebelumnya, fenomena seperti El Nino dan badai memicu lonjakan kasus di beberapa negara ASEAN. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi regional bukan sekadar formalitas, tetapi kebutuhan strategis. Dengan bekerja bersama, negara-negara anggota dapat mengurangi dampak bencana alam terhadap kesehatan publik.

Upaya Indonesia dalam Memimpin Regional

Indonesia aktif memfasilitasi forum regional dan berbagi praktik terbaik pengendalian dengue. Program ini mencakup surveilans kasus, uji coba vaksin, serta inovasi pengendalian vektor seperti Wolbachia. Langkah-langkah tersebut menjadi model bagi negara lain di kawasan.

Prima menegakan bahwa pengendalian dengue memerlukan komitmen jangka panjang. Kolaborasi lintas negara, penerapan teknologi kesehatan, dan edukasi masyarakat harus berjalan bersamaan. Dengan strategi terpadu, risiko lonjakan kasus dengue di ASEAN dapat ditekan secara signifikan.

Indonesia juga menekankan pentingnya data dan penelitian untuk mendukung kebijakan regional. Dengan informasi yang akurat, setiap negara dapat menyesuaikan langkah penanggulangan sesuai kondisi lokal. Upaya ini diharapkan memperkuat solidaritas ASEAN dalam menghadapi ancaman kesehatan lintas negara.

Terkini