JAKARTA - Awal tahun sering menjadi momen beraktivitas lebih, mulai dari liburan hingga perjalanan jauh.
Aktivitas yang meningkat dapat memicu keluhan kesehatan, termasuk nyeri dada yang tiba-tiba muncul. Banyak orang menganggap remeh gejala ini, padahal bisa menjadi tanda kondisi serius.
Faktor pemicu nyeri dada antara lain kelelahan, stres, pola makan tidak sehat, dan riwayat penyakit seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau penyakit jantung. Nyeri dada bisa muncul saat perjalanan jauh, aktivitas fisik berlebihan, atau situasi liburan yang menuntut stamina tinggi. Kesadaran akan gejala awal sangat penting agar penanganan cepat dapat dilakukan.
Penting untuk membedakan nyeri dada ringan dan serius. Beberapa orang menunda pemeriksaan karena merasa gejala hanya efek lelah. Padahal, pemeriksaan dini dapat mencegah komplikasi fatal.
Tanda Nyeri Dada yang Perlu Diwaspadai
Nyeri dada yang tidak boleh diabaikan biasanya disertai sensasi tertekan, terbakar, atau seolah tertimpa beban berat. Gejala juga bisa menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung. Nyeri sering disertai sesak napas, mual, keringat dingin, dan pusing.
Beberapa pola nyeri memberikan indikasi kondisi jantung tertentu. Nyeri yang muncul saat aktivitas dan membaik saat istirahat bisa mengarah pada angina atau penyakit jantung koroner. Sementara nyeri yang memburuk saat menarik napas dalam, batuk, atau bergerak biasanya terkait otot dan tulang.
Pemicu nyeri non-jantung sering terkait gaya hidup tidak sehat. Pola makan tinggi lemak, kurang aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, dan stres berkepanjangan berperan penting. Mengetahui asal nyeri membantu menentukan langkah penanganan yang tepat.
Pemeriksaan Medis dan Penanganan Dini
Selama liburan, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebab nyeri dada. Chest Pain Unit hadir untuk menilai secara menyeluruh pasien dengan keluhan mendadak. Pemeriksaan non-jantung tidak dikenakan biaya, sehingga pasien tetap dapat memperoleh layanan awal.
Jika nyeri disebabkan oleh penyakit jantung, pasien akan ditangani oleh dokter spesialis sesuai protokol medis. Penanganan meliputi evaluasi menyeluruh dan rencana intervensi yang tepat. Sistem ini memastikan keselamatan pasien terjamin.
Pemeriksaan dini dapat mencegah keterlambatan penanganan. Menunda evaluasi bisa berakibat serius. Deteksi cepat membantu menjaga kualitas hidup dan mengurangi risiko komplikasi.
Layanan Darurat Jantung 24 Jam
Chest Pain Unit terintegrasi dengan layanan Cardiac Emergency 24 jam. Tim medis siap menangani serangan jantung dengan tindakan Primary PCI sesuai standar Door to Balloon kurang dari 90 menit. Layanan ini merupakan bagian dari Cardiovascular Center untuk penanganan penyakit jantung lanjutan.
Intervensi mencakup tindakan jantung minimal invasif, ablasi aritmia, bypass, hingga operasi kompleks. Semua prosedur dilakukan sesuai standar internasional untuk keselamatan pasien. Integrasi layanan darurat dan penanganan lanjutan memastikan respon cepat terhadap kondisi kritis.
Masyarakat dapat menghubungi layanan darurat melalui nomor khusus atau fitur Emergency Call. Akses cepat meningkatkan peluang penanganan tepat waktu. Koordinasi antara unit darurat dan layanan rumah sakit sangat krusial.
Pemantauan Kesehatan dan Edukasi Preventif
Selain layanan darurat, pasien dapat memanfaatkan fitur konsultasi melalui aplikasi MyCare. Layanan ini memudahkan jadwal konsultasi dan akses informasi kesehatan jantung. Fitur Health Articles & Tips memberikan edukasi preventif kepada masyarakat.
MyCare juga terhubung dengan Google Fit dan Health Access untuk memantau detak jantung, kalori terbakar, langkah kaki, dan Body Mass Index. Pemantauan rutin membantu mengenali perubahan kesehatan lebih awal. Kesadaran diri menjadi langkah preventif paling efektif.
Masyarakat dianjurkan menjaga pola hidup sehat setiap hari. Aktivitas fisik cukup, diet seimbang, dan manajemen stres menjadi fondasi kesehatan jantung. Kombinasi pemeriksaan rutin dan gaya hidup sehat dapat mencegah komplikasi serius.