Mentan

Mentan Tegaskan Indonesia Bersiap Ekspor Beras Setelah Capai Swasembada Nasional

Mentan Tegaskan Indonesia Bersiap Ekspor Beras Setelah Capai Swasembada Nasional
Mentan Tegaskan Indonesia Bersiap Ekspor Beras Setelah Capai Swasembada Nasional

JAKARTA - Pemerintah menilai capaian swasembada beras membuka peluang baru bagi sektor pertanian nasional. 

Stabilitas produksi dan penguatan cadangan pangan menjadi fondasi utama menuju fase berikutnya. Ekspor beras kini mulai dipertimbangkan sebagai langkah strategis lanjutan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia hampir pasti siap mengekspor beras tahun ini. Pernyataan tersebut disampaikan setelah penyerapan beras oleh Perum Bulog dipastikan berjalan aman. Kondisi ini menandai kepercayaan pemerintah terhadap ketahanan pasokan nasional.

Menurut Amran, izin dan kesiapan Bulog menjadi faktor kunci dalam realisasi ekspor. Selama penyerapan aman untuk beberapa bulan ke depan, peluang ekspor dinilai terbuka lebar. Kebijakan ini tidak dimaksudkan mengganggu kebutuhan dalam negeri.

Ekspor Beras Disebut Akan Jadi Sejarah Baru

Amran menegaskan ekspor beras akan menjadi tonggak sejarah penting bagi Indonesia. Hal ini menyusul keberhasilan menjaga pasokan nasional di tengah peningkatan produksi petani. Indonesia dinilai memasuki fase baru dari swasembada menuju negara pengekspor.

"Beras kalau bisa... izin Bapak Presiden yang penting Bulog, izinnya dan serapannya tiga bulan ke depan, sama saja 2025, aku tidak minta lebih, itu ekspor hampir pasti kita lakukan tahun ini," kata Amran.

Ia menilai kesempatan tersebut menjadi momentum strategis untuk menunjukkan kekuatan sektor pertanian nasional. Keberhasilan ini mencerminkan pengelolaan pangan yang semakin matang. Pemerintah menekankan ekspor dilakukan secara terukur dan bertanggung jawab.

Penguatan Cadangan Beras Pemerintah Nasional

Stok beras cadangan pemerintah saat ini tercatat mencapai 3,2 juta ton secara nasional. Angka tersebut sempat menyentuh level 4 juta ton pada pertengahan tahun sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan penguatan cadangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Amran membandingkan capaian tersebut dengan kondisi Indonesia pada 1984. Pada masa itu, Indonesia mendapat pengakuan internasional meski stok nasional hanya sekitar 2 juta ton. Perbandingan ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengelolaan pangan.

"Ini Bapak Presiden, pernah dulu Indonesia mendapatkan penghargaan di 1984 dari FAO. Itu stoknya hanya 2 juta ton. Kita sekarang 4 juta ton pernah diraih dan akhir tahun 3,2 juta ton," beber Amran.

Konsumsi Domestik dan Produksi Tetap Terjaga

Selain cadangan pemerintah, konsumsi beras sektor hotel, restoran, dan katering juga mencatat rekor tertinggi. Volume konsumsi nasional tercatat mencapai sekitar 12 juta ton. Angka ini menunjukkan permintaan domestik tetap kuat dan stabil.

Amran menegaskan kondisi tersebut tidak mengganggu rencana ekspor. Produksi petani dalam negeri terus meningkat secara konsisten. Sinergi lintas kementerian dinilai berperan besar dalam pencapaian ini.

Capaian swasembada disebut tidak terjadi secara instan. Arahan Presiden serta dukungan kebijakan menjadi faktor penting keberhasilan. Indonesia kini dinilai siap melangkah ke fase yang lebih maju dalam tata kelola pangan.

Presiden Tegaskan Swasembada Harus Berkelanjutan

Di kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto menegaskan tekadnya menjaga swasembada pangan secara berkelanjutan. Target tersebut tidak hanya berlaku satu atau dua tahun. Pemerintah menargetkan swasembada pangan terwujud setiap tahun.

Presiden menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan para petani dan komunitas pertanian. Pemerintah ingin membuktikan kemampuan nasional secara nyata.

"Hari ini, bahagia bagi saya. Bahagia, saya senang sekali, dan saya melihat tadi, penuh harapan, penuh keyakinan. Kalau banyak tokoh nyinyir mengatakan kita tidak bisa swasembada pangan, hari ini kita buktikan kita swasembada pangan," kata Presiden Prabowo.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index