Mengenal Deep Brain Stimulation

Mengenal Deep Brain Stimulation untuk Bantu Parkinson Lebih Terkontrol

Mengenal Deep Brain Stimulation untuk Bantu Parkinson Lebih Terkontrol
Mengenal Deep Brain Stimulation untuk Bantu Parkinson Lebih Terkontrol

JAKARTA - Parkinson merupakan penyakit saraf kronis yang memengaruhi kemampuan motorik penderita secara signifikan.

Tremor, kekakuan otot, dan gerakan melambat menjadi gejala utama yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada beberapa pasien, obat-obatan tidak lagi efektif, sehingga prosedur deep brain stimulation (DBS) dapat menjadi pilihan.

DBS adalah prosedur bedah saraf yang menggunakan elektroda untuk memberikan rangsangan listrik terkontrol pada area tertentu di otak. 

Tujuannya adalah mengatur kembali sinyal saraf yang terganggu akibat Parkinson. Meski bukan pengobatan yang menyembuhkan, DBS mampu mengurangi gangguan motorik dan menurunkan ketergantungan obat bagi pasien tertentu.

Prosedur ini melibatkan pemasangan elektroda tipis di otak yang dihubungkan ke perangkat stimulasi di bawah kulit dada bagian atas. Alat tersebut menyerupai pacu jantung dan bekerja secara terus-menerus memberikan impuls listrik sesuai pengaturan dokter. Dengan teknologi ini, pasien dapat merasakan perbaikan gejala secara signifikan.

Bagaimana Cara Kerja DBS?

Gangguan motorik Parkinson terjadi akibat kematian sel saraf di area substantia nigra yang berperan dalam produksi dopamin. Ketidakseimbangan dopamin membuat sinyal gerak menjadi tidak terkontrol. DBS bekerja dengan menekan sinyal listrik abnormal tersebut, sehingga tremor, kekakuan, dan gerakan lambat dapat berkurang.

Prosedur ini membantu pasien menjalani aktivitas harian dengan lebih leluasa. Efek stimulasi listrik dapat disesuaikan agar sesuai dengan kebutuhan tiap individu. Pasien pun dapat mengurangi dosis obat dan menurunkan risiko efek samping yang muncul akibat konsumsi jangka panjang.

Keunggulan DBS mencakup pengendalian gejala yang stabil dan jangka panjang, pengaturan stimulasi yang fleksibel, serta peningkatan kualitas hidup. Daya tahan baterai perangkat dapat mencapai 5–15 tahun. Terapi ini bersifat simtomatik, fokus meredakan gangguan motorik tanpa menyembuhkan Parkinson.

Siapa yang Dapat Menjalani DBS?

DBS tidak cocok untuk semua pasien Parkinson. Pasien yang umumnya dipertimbangkan berusia di bawah 75 tahun, masih responsif terhadap obat, dan mengalami efek samping obat yang signifikan. Kondisi fisik dan mental juga harus memungkinkan untuk menjalani operasi bedah saraf.

Sebaliknya, DBS tidak dianjurkan bagi pasien dengan demensia sedang hingga berat, depresi berat, atau yang sudah tidak merespons obat Parkinson. 

Penilaian medis menyeluruh menjadi penting untuk menentukan siapa yang dapat memperoleh manfaat dari prosedur ini. Konsultasi dengan dokter spesialis saraf membantu memastikan keputusan dilakukan secara tepat.

Evaluasi sebelum DBS meliputi wawancara medis, pemeriksaan fisik, MRI otak, serta penilaian respons obat. Semua langkah ini bertujuan memastikan prosedur sesuai dengan kondisi pasien. Keputusan yang matang membantu meminimalkan risiko dan meningkatkan keberhasilan terapi.

Tahapan Prosedur DBS

Prosedur DBS dilakukan dalam dua tahap utama. Tahap pertama adalah pemasangan elektroda di otak dengan bius lokal agar pasien tetap sadar. Selama tahap ini, dokter mengevaluasi ketepatan posisi elektroda melalui simulasi, sambil pasien memberikan umpan balik terkait perubahan gejala.

Tahap kedua adalah pemasangan perangkat stimulasi permanen di bawah kulit dada dengan bius umum. Elektroda yang sudah ditanam di otak kemudian dihubungkan ke perangkat melalui kabel halus di bawah kulit. Setelah itu, pasien menjalani pemantauan respons stimulasi untuk menyesuaikan pengaturan secara optimal.

Kontrol awal dilakukan setiap dua minggu hingga pengaturan stabil. Setelah itu, interval kontrol bisa diperpanjang sesuai evaluasi dokter. Proses ini memastikan pasien merasakan manfaat DBS secara maksimal dengan risiko minimal.

Memastikan Keputusan DBS melalui Second Opinion

DBS merupakan prosedur kompleks yang berdampak jangka panjang. Pasien dan keluarga sering membutuhkan informasi tambahan sebelum mengambil keputusan. Mencari second opinion dapat membantu memastikan pilihan terbaik bagi kondisi dan kebutuhan pasien.

Second opinion memberikan pandangan tambahan terkait ketepatan diagnosis, alternatif terapi, manfaat dan risiko prosedur, serta kesiapan fisik dan psikologis pasien. Di Siloam International Hospitals, layanan ini didukung dokter spesialis berpengalaman dan teknologi bedah saraf terkini. Prosesnya lebih nyaman, dilakukan di dalam negeri, dan dekat dengan keluarga.

Melalui layanan Siloam Medical Concierge (SMC), pasien dapat menjadwalkan konsultasi secara komprehensif. Diskusi mengenai rencana terapi, termasuk kemungkinan DBS, dilakukan dengan tenang dan terkoordinasi. Langkah ini membantu pasien merasa lebih yakin sebelum menjalani prosedur saraf yang kompleks.

Dengan pendekatan medis yang tepat dan persiapan matang, DBS mampu membantu pasien Parkinson mengendalikan gejala secara lebih efektif. 

Prosedur ini memberikan harapan bagi mereka yang sebelumnya merasa terbatas oleh gejala. Keputusan yang didukung evaluasi menyeluruh dan second opinion menjadi kunci keberhasilan terapi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index