Finansial

Kebiasaan Finansial Anak Perlu Dibentuk Sejak Dini Lewat Peran Keluarga

Kebiasaan Finansial Anak Perlu Dibentuk Sejak Dini Lewat Peran Keluarga
Kebiasaan Finansial Anak Perlu Dibentuk Sejak Dini Lewat Peran Keluarga

JAKARTA - Membangun Kebiasaan Finansial Anak Sejak Dini menjadi isu penting di era digital. 

Anak-anak kini semakin mudah berinteraksi dengan uang melalui berbagai fasilitas modern. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diiringi pemahaman yang memadai.

Transaksi digital membuat anak lebih cepat mengenal uang. Sayangnya, pemahaman tentang cara mengelola keuangan sering kali tertinggal. Kondisi ini menjadikan edukasi finansial sebagai kebutuhan mendesak.

Peran keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun kebiasaan tersebut. Rumah menjadi ruang pertama anak belajar nilai uang. Dari sanalah kebiasaan finansial mulai terbentuk.

Peran Rumah dalam Literasi Finansial

Literasi keuangan tidak cukup diajarkan melalui teori di sekolah. Praktik sehari-hari jauh lebih efektif untuk anak. Proses ini idealnya dimulai dari lingkungan keluarga.

Melibatkan anak dalam diskusi keuangan keluarga menjadi langkah awal. Anak dapat belajar memahami alur pemasukan dan pengeluaran. Pendekatan ini membantu mereka melihat uang secara nyata.

Orang tua juga dapat mengajarkan pencatatan sederhana. Kebiasaan ini melatih anak mengenali tanggung jawab finansial. Keputusan kecil yang didampingi orang tua menjadi latihan penting.

Pendekatan ini membentuk pemahaman bahwa keuangan bukan sekadar hitungan. Uang berkaitan dengan sikap dan kebiasaan hidup. Nilai ini akan terbawa hingga anak dewasa.

Kebiasaan Kecil dan Dampak Jangka Panjang

Dewi R.D. Amelia menekankan pentingnya kebiasaan sehari-hari. Menurutnya, pengelolaan keuangan tidak ditentukan besar kecilnya penghasilan. Yang paling berpengaruh adalah pola perilaku finansial.

Memahami ke mana uang digunakan menjadi langkah dasar. Anak juga perlu diajarkan membedakan kebutuhan dan keinginan. Perlindungan keuangan sejak dini turut membangun rasa aman.

“Keputusan-keputusan kecil yang diambil hari ini, mulai dari menentukan prioritas, menabung, hingga merencanakan tujuanakan berdampak besar bagi ketenangan hidup di kemudian hari,” jelasnya. Pernyataan ini menegaskan pentingnya konsistensi kebiasaan. Dampaknya terasa dalam jangka panjang.

Literasi keuangan harus disampaikan secara praktis. Materi perlu relevan dengan kehidupan anak. Pendekatan aplikatif membuat pembelajaran lebih efektif.

Tantangan Literasi di Era Digital

Tantangan literasi keuangan semakin terasa di era digital. Anak tumbuh di tengah ekosistem keuangan yang kompleks. Kemudahan akses membawa peluang sekaligus risiko.

Rudy F. Manik menyoroti kondisi tersebut. Ia menilai anak-anak kini berhadapan dengan layanan keuangan digital sejak dini. Tanpa pemahaman, risiko penyalahgunaan semakin besar.

Dompet digital dan transaksi daring semakin mudah digunakan. Anak dapat mengaksesnya hanya melalui gawai. Hal ini menuntut pendampingan yang lebih intensif.

Indeks literasi keuangan pelajar masih berada di angka 56,42%. Angka tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan pemahaman. Upaya kolektif diperlukan untuk memperbaiki kondisi ini.

Pendekatan berbasis ekosistem menjadi semakin relevan. Peran keluarga, sekolah, dan industri perlu terhubung. Kolaborasi menjadi kunci penguatan literasi.

Kolaborasi Sekolah dan Industri

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui program JA SparktheDream. Program ini diinisiasi oleh PT FWD Insurance Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia. Pelaksanaannya memasuki tahun keempat.

Program ini menargetkan lebih dari 2.300 siswa sekolah menengah pertama. Peserta berasal dari berbagai kota di Indonesia. Pelaksanaan berlangsung hingga November 2026.

Edukasi diberikan melalui empat sesi pembelajaran interaktif. Metode ini dipadukan dengan platform daring. Aktivitas rumah bersama keluarga menjadi bagian penting.

Utami Anita Herawati menjelaskan peran guru dalam program ini. Guru dibekali metodologi dan materi pembelajaran. Pendekatan ini dapat diadaptasi secara berkelanjutan.

Melalui program tersebut, guru menjadi agen perubahan. Materi literasi dapat dikembangkan dalam kurikulum. Dampaknya diharapkan bersifat jangka panjang.

Kehadiran sukarelawan dari FWD Insurance memperkaya pembelajaran. Siswa mendapat gambaran nyata dunia profesional. Teori dan praktik menjadi lebih seimbang.

Penguatan Peran Orang Tua dan Harapan Masa Depan

Pelaksanaan tahun keempat diawali dengan seminar literasi keuangan. Seminar bertajuk “Kelola Uang Hari Ini, Aman Esok Hari”. Kegiatan ini melibatkan orang tua dan siswa.

Seminar tersebut dirancang untuk memperkuat peran orang tua. Orang tua diposisikan sebagai pendamping utama anak. Kebiasaan finansial sehat dimulai dari rumah.

Rumah dan sekolah dijadikan ruang belajar terhubung. Literasi keuangan dipandang sebagai proses berkelanjutan. Pembiasaan menjadi inti utama pembelajaran. JA SparktheDream menegaskan literasi bukan sekadar program. Ini merupakan pembentukan pola hidup. Prosesnya membutuhkan konsistensi semua pihak.

Upaya ini diharapkan membentuk generasi yang bijak finansial. Anak mampu mengambil keputusan dengan pertimbangan matang. Rasa aman finansial menjadi tujuan akhir.

Dengan fondasi yang kuat sejak dini, masa depan anak lebih terarah. Literasi keuangan menjadi bekal penting kehidupan. Generasi muda diharapkan tumbuh lebih berdaya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index