JAKARTA - Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pemerintah Indonesia memilih untuk tidak menunggu keadaan membaik. Sebaliknya, langkah proaktif ditempuh dengan memperkuat posisi dalam negosiasi perdagangan strategis bersama Amerika Serikat.
Fokusnya sederhana tetapi krusial: memastikan tarif dagang yang lebih kompetitif agar industri nasional tetap mampu bertahan dan tumbuh di pasar internasional.
Komitmen ini kembali ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Menurutnya, pembahasan mengenai tarif resiprokal dengan AS bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga daya saing Indonesia.
Arah Diplomasi Ekonomi Yang Lebih Terukur
Pemerintah menegaskan bahwa pendekatan diplomasi ekonomi kini dirancang lebih sistematis. Bukan hanya berkunjung, tetapi membawa peta jalan negosiasi yang jelas.
Airlangga menyampaikan bahwa tim negosiasi akan kembali bertolak ke Amerika Serikat pada pekan depan untuk melanjutkan pembahasan.
"Nanti ada tim akan berangkat lagi tanggal 12 - 19 Januari, nanti dari situ baru jadwal selanjutnya bisa kita ketahui," ujar Airlangga.
Meski belum membeberkan detail poin yang akan dibahas, pemerintah memastikan bahwa setiap tahapan difokuskan pada hasil konkret. Transparansi hasil negosiasi akan disampaikan setelah pembicaraan berjalan.
Menjaga Target Penyelesaian Perjanjian Resiprokal
Sebelumnya, pemerintah telah menargetkan penyelesaian reciprocal tariff agreement dalam kurun waktu tertentu. Target tersebut menunjukkan keyakinan bahwa ruang kerja sama masih terbuka lebar.
Dalam kesempatan sebelumnya, Airlangga menargetkan penyelesaian reciprocal tariff agreement dengan AS. Targetnya, negosiasi rampung akhir tahun 2025.
Airlangga bersama tim negosiasi akan kembali terbang ke Washington pekan depan untuk memastikan proses penandatanganan berjalan sesuai target.
“Perjanjian mengenai reciprocal tariff itu akan dilanjutkan dalam waktu dekat. Saya akan mengirim tim ke Washington minggu depan, dan harapannya sampai akhir tahun ini apa yang sudah diperjanjikan oleh kedua pemimpin, yaitu Presiden Prabowo dan Presiden Trump, bisa dituangkan dalam draft agreement,” ujar Airlangga.
Di tahap ini, pemerintah memposisikan diri bukan hanya sebagai pihak penerima kebijakan, tetapi sebagai mitra yang bernegosiasi setara. Tujuannya jelas: memperoleh tarif yang adil dan menguntungkan kedua negara.
Sinyal Positif Dari Komunikasi Dengan Mitra Amerika
Di balik proses negosiasi, komunikasi intensif menjadi kunci. Airlangga mengungkapkan, perkembangan terbaru tidak lepas dari dialog langsung antara pemerintah Indonesia dan pihak Amerika Serikat.
Airlangga mengatakan, perkembangan positif ini didapat setelah dirinya berkomunikasi langsung dengan United States Trade Representative (USTR), Ambassador Jameson Greer, pada Kamis malam. Ia menegaskan kedua pihak sepakat untuk menuntaskan seluruh komitmen yang tertuang dalam leaders declaration pada 22 Juli lalu.
Komunikasi ini memberi keyakinan bahwa proses tidak berhenti di meja pembahasan, melainkan bergerak menuju penyelesaian konkret. Keterlibatan langsung pejabat tinggi menunjukkan bahwa agenda perdagangan ini memiliki bobot strategis bagi kedua negara.
Posisi Indonesia Dalam Peta Perdagangan Global
Indonesia kini disebut sebagai salah satu negara yang mampu mencapai kesepakatan dagang penting dalam kerangka resiprokal dengan Amerika Serikat.
Menurutnya, Indonesia menjadi negara ketiga yang telah mencapai kesepakatan dagang dengan AS dalam kerangka resiprokal.
Posisi ini memberi peluang lebih besar bagi produk nasional untuk masuk pasar global dengan hambatan tarif yang lebih rendah. Pada saat yang sama, Indonesia tetap menjaga keseimbangan kepentingan agar industri lokal tidak dirugikan.
Ke depan, pemerintah diharapkan terus menjaga konsistensi komunikasi, memastikan setiap kebijakan turunannya selaras, serta menyiapkan dukungan bagi pelaku usaha agar benar-benar dapat memanfaatkan hasil negosiasi ini.
Dengan langkah terukur, diplomasi ekonomi Indonesia bukan hanya respons terhadap tekanan global, tetapi menjadi instrumen strategis untuk memperkuat daya saing dan membuka peluang pasar yang lebih luas.