JAKARTA - Di tengah upaya stabilisasi pangan nasional, perkembangan harga beras kembali menjadi sorotan utama. Menjelang akhir tahun, data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tekanan harga masih terasa di seluruh rantai distribusi.
Kenaikan tak hanya terjadi di tingkat konsumen, tetapi sudah terlihat sejak tahap penggilingan hingga perdagangan grosir. Situasi ini memberi sinyal bahwa tantangan menjaga keterjangkauan pangan belum sepenuhnya mereda.
Beras premium menjadi jenis yang menunjukkan kenaikan paling tinggi dibandingkan jenis lainnya, menandakan bahwa kelompok beras dengan kualitas lebih baik ikut terdorong oleh dinamika pasokan, biaya distribusi, dan faktor musiman.
Kondisi tersebut membuat pemerintah dan pelaku pasar perlu mencermati kembali bagaimana kebijakan, stok, dan distribusi bekerja sepanjang periode akhir tahun.
Tekanan Harga Terlihat Sejak Tahap Penggilingan
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kenaikan harga beras sudah terjadi sejak tahap awal rantai suplai. Ia menyebut, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Desember 2025 naik 1,26 persen secara bulanan dan meningkat 6,38 persen secara tahunan.
“Jika kita pilah menurut kualitas beras di penggilingan, maka beras premium naik 2,62% secara month to month dan naik 6,92% secara year on year,” ujar Pudji.
Kenaikan pada level ini penting dicermati karena penggilingan merupakan salah satu penentu harga berikutnya di tingkat grosir dan eceran. Ketika biaya di hulu meningkat, ruang penyesuaian harga biasanya ikut melebar hingga sampai ke tangan konsumen.
Pergerakan Harga di Perdagangan Grosir
Tekanan harga kemudian tercermin pada aktivitas perdagangan. BPS mencatat bahwa di tingkat grosir, inflasi beras mencapai 0,22 persen secara bulanan dan 5,00 persen secara tahunan. Angka tersebut mengindikasikan bahwa pelaku grosir masih merespon kondisi pasokan dan harga hulu.
Pada fase ini, distribusi, biaya logistik, dan fluktuasi permintaan seringkali memainkan peran besar. Setiap perubahan di tingkat grosir memiliki dampak berantai, karena grosir menjadi penghubung utama ke pedagang kecil dan pasar tradisional di berbagai daerah.
Dengan demikian, kenaikan harga di titik ini menjadi semacam penanda bahwa konsumen kemungkinan besar masih akan menghadapi harga beras yang relatif tinggi dalam waktu dekat.
Dampak Hingga ke Konsumen Akhir
Tidak berhenti di grosir, BPS juga mencatat peningkatan harga di tingkat eceran. Inflasi harga beras di level ini sebesar 0,18 persen secara bulanan dan 3,64 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga memang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Beras, sebagai komoditas utama kebutuhan rumah tangga, memiliki kontribusi signifikan terhadap inflasi pangan dan daya beli. Kenaikan kecil sekalipun seringkali terasa di kalangan rumah tangga berpendapatan rendah yang anggaran pangannya relatif besar. Karena itu, perubahan harga beras selalu mendapat perhatian khusus dalam kebijakan ekonomi.
Pudji menegaskan bahwa data yang disampaikan merupakan rata-rata nasional, mencakup berbagai kualitas beras dan seluruh wilayah Indonesia.
Artinya, di beberapa daerah, kenaikan bisa terasa lebih besar atau sebaliknya lebih terkendali, tergantung kondisi pasokan lokal, distribusi, dan stok cadangan.
Implikasi Terhadap Kebijakan Pangan
Kenaikan harga beras di akhir tahun memperlihatkan bahwa stabilitas pangan masih menghadapi tantangan. Faktor musiman, cuaca, biaya produksi, hingga distribusi menjadi komponen yang saling memengaruhi.
Pada saat yang sama, tren ini menegaskan bahwa pengelolaan cadangan beras pemerintah, operasi pasar, dan kebijakan impor maupun distribusi tetap perlu dilakukan secara hati-hati.
Data BPS memberi gambaran bahwa meski pandemi telah berlalu dan aktivitas ekonomi pulih, tekanan harga pangan belum sepenuhnya hilang.
Upaya menjaga daya beli masyarakat dan mengontrol inflasi pangan menjadi semakin penting, terutama karena beras menempati posisi strategis dalam struktur konsumsi rumah tangga Indonesia.
Pada akhirnya, laporan BPS mengenai kenaikan harga beras di seluruh level penggilingan, grosir, hingga eceran menjadi pengingat bahwa kebijakan pangan tidak hanya berbicara soal produksi, tetapi juga bagaimana harga tetap terjangkau.
Dengan pemantauan yang konsisten dan langkah antisipatif, diharapkan tekanan harga dapat lebih terkelola ke depan.