Kepala BRIN

Kepala BRIN Nilai Budaya Kolaboratif Penentu Keberhasilan Riset Strategis Nasional

Kepala BRIN Nilai Budaya Kolaboratif Penentu Keberhasilan Riset Strategis Nasional
Kepala BRIN Nilai Budaya Kolaboratif Penentu Keberhasilan Riset Strategis Nasional

JAKARTA - Penguatan riset strategis nasional tidak dapat dilepaskan dari kualitas budaya kerja di lingkungan lembaga riset. 

Pendekatan yang menekankan kolaborasi dan rasa saling percaya dinilai mampu meningkatkan efektivitas kerja para periset. Dalam konteks inilah pentingnya membangun ekosistem riset yang sehat dan inklusif terus ditekankan.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional menegaskan bahwa keberhasilan riset tidak hanya ditentukan oleh fasilitas dan anggaran. Faktor manusia, khususnya hubungan kerja yang harmonis, menjadi fondasi utama. Lingkungan kerja yang kondusif diyakini mampu melahirkan inovasi berdampak luas.

Budaya kerja kolaboratif dipandang sebagai kebutuhan mendesak dalam menghadapi tantangan pembangunan. Riset strategis membutuhkan sinergi lintas disiplin dan lembaga. Tanpa kepercayaan, potensi tersebut sulit diwujudkan secara optimal.

Kepercayaan sebagai Fondasi Riset

Kepercayaan disebut sebagai modal utama dalam menjalankan aktivitas riset dan inovasi. Melalui kepercayaan, periset dapat bekerja dengan rasa aman dan penuh tanggung jawab. Kondisi tersebut menjadi dasar terciptanya produktivitas dan kualitas hasil riset.

“Kepercayaan adalah modal utama dalam riset dan inovasi. Lingkungan kerja yang aman dan saling percaya akan mendorong produktivitas serta kualitas karya riset,” katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa relasi antarmanusia memiliki peran sentral. Tanpa kepercayaan, proses riset berisiko terhambat.

Budaya saling percaya juga mendorong keterbukaan dalam berbagi gagasan. Periset lebih berani menyampaikan ide dan kritik konstruktif. Hal ini penting untuk menjaga dinamika intelektual yang sehat.

Tata Kelola Riset yang Adaptif

BRIN terus mendorong tata kelola riset yang adaptif terhadap aspirasi periset. Pendekatan ini dilakukan tanpa mengabaikan target kinerja organisasi. Keseimbangan antara fleksibilitas dan kepatuhan regulasi menjadi perhatian utama.

Penyesuaian tata kelola diperlukan agar riset tetap relevan dengan perkembangan zaman. Aspirasi periset menjadi sumber penting dalam perumusan kebijakan internal. Namun, seluruh proses tetap harus sejalan dengan kapasitas organisasi dan aturan negara.

Dengan tata kelola yang adaptif, hasil riset diharapkan lebih aplikatif. Inovasi yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan pembangunan nasional. Riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi memberi manfaat nyata.

Menjawab Tantangan Pembangunan Nasional

Hasil riset strategis diharapkan mampu mendukung agenda pembangunan nasional. Riset harus diarahkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Oleh karena itu, relevansi menjadi kata kunci dalam setiap program riset.

Kepala BRIN mencontohkan bagaimana etos budaya kerja di Jepang membentuk kualitas sumber daya manusianya. Etos tersebut melahirkan semangat kerja tinggi dan rasa tanggung jawab besar. Nilai ini dinilai relevan untuk diterapkan di lingkungan riset nasional.

“Etos akan melahirkan semangat kerja tinggi dan rasa tanggung jawab yang besar. Saya berharap pegawai BRIN meneladani hal tersebut,” ujarnya. Pesan ini menekankan pentingnya nilai dalam bekerja. Riset dipandang sebagai pengabdian, bukan sekadar rutinitas.

Bekerja dengan Panggilan Jiwa

Bekerja bukan semata-mata untuk memperoleh imbalan materi. Kepala BRIN menekankan pentingnya passion dalam menjalankan tugas. Panggilan jiwa diyakini mampu melahirkan dedikasi yang lebih kuat.

“Bekerja bukan karena uang semata, tetapi karena panggilan jiwa (passion),” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa motivasi intrinsik memiliki peran besar. Dengan passion, periset dapat bertahan menghadapi berbagai tantangan.

Budaya kerja yang berlandaskan passion mendorong kualitas dan keberlanjutan riset. Periset bekerja dengan kesadaran penuh atas makna pekerjaannya. Hal ini berdampak pada konsistensi dan integritas hasil riset.

Kebahagiaan sebagai Modal Produktivitas

Kebahagiaan disebut sebagai modal utama dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan. Tanpa kebahagiaan, produktivitas sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, keseimbangan hidup menjadi perhatian penting.

Kebahagiaan dapat tercapai melalui dukungan keluarga yang baik. Relasi pertemanan yang positif juga menjadi penopang penting. Selain itu, pekerjaan yang bermakna turut menentukan kualitas hidup.

“Kerja sejati adalah yang dilakukan dengan jiwa dan semangat, sehingga menciptakan kebahagiaan dan makna hidup,” tutur Arif Satria. Ia juga menekankan bahwa usia tidak ditentukan oleh angka. Semangat berpikir ke depan menjadi penanda utama.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index