JAKARTA - Jumlah penumpang pesawat dari Bandara Notohadinegoro Jember mengalami peningkatan signifikan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Antusiasme masyarakat terlihat jelas, terutama pada rute Jember–Bali PP, yang sempat mencapai kapasitas penuh.
Kepala Dinas Perhubungan Jember, Gatot Triyono, menyampaikan bahwa jumlah penumpang melonjak sejak 22 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.
“Bahkan tanggal 2 Januari itu penumpangnya penuh, 72 orang. Kalau di rata-rata tingkat keterisian kursi selama periode Nataru berada di kisaran 80–85 persen,” ujar Gatot.
Pada hari biasa, okupansi penerbangan berada di kisaran 50–60 persen, namun selama Nataru melonjak tajam hingga 80–90 persen, menandakan tingginya minat masyarakat untuk bepergian menggunakan jalur udara dari Jember ke Bali.
Faktor Pendorong Lonjakan Penumpang
Menurut Gatot, peningkatan jumlah penumpang ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap layanan penerbangan lokal. Beberapa faktor diduga menjadi penyebab lonjakan:
Libur Natal dan Tahun Baru yang berbarengan dengan cuti sekolah dan libur nasional.
Kebutuhan masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata atau kunjungan keluarga ke Bali.
Tren pemulihan perjalanan udara setelah pembukaan kembali rute dan fasilitas di Bandara Notohadinegoro.
Selain itu, Gatot menekankan bahwa rute Jember–Bali memiliki daya tarik tinggi karena kapasitas penerbangan yang relatif kecil, sehingga setiap jadwal penerbangan cenderung cepat terisi penuh.
Perbedaan Tren Rute Jember–Jakarta
Sementara itu, okupansi penerbangan rute Jember–Jakarta (Halim Perdanakusuma) masih menunjukkan fluktuasi. Menurut Gatot, sejak rute ini kembali dibuka setelah sempat ditutup untuk evaluasi, tingkat keterisian sempat mencapai 70–80 persen, namun dalam dua bulan terakhir turun menjadi sekitar 65–70 persen.
Salah satu faktor yang memengaruhi tren ini adalah harga tiket. Pada awal pembukaan rute, harga tiket berada di kisaran Rp1,4 juta hingga Rp1,7 juta, namun belakangan naik menjadi sekitar Rp2,15 juta. Meski demikian, Pemkab Jember optimistis okupansi akan kembali meningkat pada tahun 2026.
Gatot menyebut, pihaknya telah berkomunikasi dengan maskapai untuk melakukan penyesuaian harga tiket agar lebih terjangkau. “Insya Allah ke depan tiket bisa di bawah Rp2 juta,” tambahnya.
Tren Positif di Rute Jember–Bali
Untuk rute Jember–Bali, Gatot menilai tren okupansi sejak awal pembukaan sangat positif. Setelah sempat berada di kisaran 50 persen, jumlah penumpang melonjak tajam selama libur Nataru hingga mencapai lebih dari 80 persen.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa masyarakat semakin memanfaatkan jalur udara untuk perjalanan singkat dan praktis, terutama pada periode libur panjang. Lonjakan penumpang juga menjadi indikator kesiapan fasilitas bandara, termasuk keamanan, kenyamanan, dan pelayanan bagi calon penumpang.
Selain itu, rute Jember–Bali menjadi rute favorit wisatawan dan masyarakat lokal yang ingin menikmati liburan singkat ke Pulau Dewata tanpa harus menempuh perjalanan darat yang panjang.
Optimisme dan Persiapan Tahun 2026
Pemerintah daerah Jember tetap optimistis bahwa tren positif ini akan berlanjut di tahun 2026. Beberapa langkah telah dilakukan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan penerbangan, antara lain:
Koordinasi dengan maskapai untuk penyesuaian harga tiket agar lebih terjangkau.
Pengembangan fasilitas Bandara Notohadinegoro agar dapat melayani lebih banyak penumpang dengan nyaman.
Evaluasi jadwal penerbangan untuk menyesuaikan kapasitas dengan permintaan masyarakat, terutama pada periode libur panjang atau Nataru.
Dengan strategi ini, pihak berwenang berharap okupansi penumpang tidak hanya meningkat saat libur, tetapi juga tetap stabil di hari-hari biasa.
Gatot menekankan bahwa rute Jember–Bali merupakan contoh keberhasilan pelayanan penerbangan domestik yang dapat menumbuhkan minat masyarakat menggunakan moda transportasi udara.
Ke depannya, tren positif ini diharapkan mendorong pertumbuhan pariwisata, mobilitas masyarakat, dan pemulihan ekonomi lokal.